Sabtu, 11 Januari 2014
Kehidupan Sebelum Pindah ke Tanah Orang
Aku berasal dari sebuah kota kecil, menempuh perjalanan darat sekitar 2 jam dari kota Medan, Sumatera Utara, nama kotanya Tebing Tinggi. Kata orang "Don't judge a book from its cover" , gatau ntah apa hubungannya sama yang mau ku ceritain ini, tapi walaupun namanya Tebing Tinggi, bukan berarti disana banyak tebing, dan tebing nya itu tinggi-tinggi. Sampe sekarang aku ga pernah tau dari mana datangnya nama itu, aku juga ga peduli sih hehe. Di besarkan dalam keluarga yang sederhana, kami tinggal di sebuah gubuk di pinggiran rel. Di situlah aku menghabiskan masa kanak-kanak dan remajaku. Walaupun kecil tapi tempat itu terasa sangat nyaman, lebih nyaman daripada hotel berbintang 5 di kamar executive (padahal ga mungkin ya kan) , tempat ini juga banyak menyimpan kenangan mulai dari yang paling bagus, sampe yang paling buruk sekalipun.
Skip sampe ke kelas 3 SMA. Di sekolah, aku bukan termasuk anak yang pinter, rajin, taat peraturan. Jadi ceritanya, waktu kelas 3 SMA, masa dimana titik balik kehidupanmu akan ditentukan disitu, mau jadi apa kamu nanti sesudah lulus SMA, apakah mau jadi seorang mahasiswa yang notabene memiliki gengsi yang lebih tinggi daripada penangguran, atau menjadi yang lain selain mahasiswa -__-
Aku suka masa-masa tingkat akhir ku di SMA, karena main terus sih hehe, tapi di sisi lain otakku, aku merasa was was karena teman-temanku sudah tidak bermain-main lagi, mereka mulai serius dengan masa depannya. Misalnya waktu aku dan sebagian teman cowo ku yang bisa di bilang bandel sedang bermain, sebagian temanku yang lain sibuk dengan buku model soal dari bimbingan belajar yang di ikutinya. Bukan cuma itu, aku juga punya tanggung jawab kepada kedua orangtuaku. Aku adalah anak pertama di keluargaku, wajar saja orangtua ku berharap banyak kepada anak pertamanya. Inilah yang mulai jadi pergunjingan dalam otakku.
Akhirnya ku putuskan untuk serius dalam studiku, ya walaupun udah telat hehe. Aku mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Ujian masuk Perguruan Tinggi pun sudah ku lewati. Untuk ukuran kemampuan akademikku, pilihanku waktu itu mengarah ke kurang ajar dan tidak tahu diri hahaha. Tapi hasilnya di luar dugaanku, aku lulus di pilihan pertamaku, di salah satu universitas favorit di pulau seberang. Bersyukur sekaligus bingung pun memenuhi seluruh kepalaku beserta neuron-neuron yang masih aktif bekerja di kepalaku. Bersyukur karena lulus tes, tapi sekaligus bingung kenapa bisa lulus tes.
Tapi sudahlah, itu urusan Tuhan, pensil, lembar jawabanku, dan komputer yang meriksa., aku sebagai manusia hanya bisa bersyukur. Saat-saat ini juga yang membuat aku kurang bersemangat, mengetahui bahwa aku harus segera meninggalkan tanah kelahiranku. Tapi lagi lagi, hidup adalah proses. Aku hanya bisa berkata " Ibu Ayah, doakan anakmu di tanah orang. Sampai bertemu di lain kesempatan, doamu besertaku"
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar