Sabtu, 11 Januari 2014

Tanjakan Pertamaku

Masih berhubungan dengan ceritaku di postingan sebelumnya "Keluarga dalam Keluarga Baru" , kali ini aku ingin bercerita tentang kegiatan yang kami ikuti di keluarga baru kami. Sama halnya seperti anak yang baru lahir, anak itu harus dibuatkan akte kelahiran kemudian namanya dicantumkan dalam kartu keluarga. Nah untuk membuat akte lahir dan mencantumkan nama kami di kartu keluarga kami yang baru, kami harus memenuhi beberapa syarat. Syaratnya hanya melakukan 2 kali pendakian di gunung yang sudah ditentukan dengan peraturan-peraturan yang sudah ditetapkan. Syarat jibgun ini tidak segampang kedengaran dan kelihatannya. Untuk newbie seperti kami, syarat tersebut terbilang cukup sulit . Pendakian harus dilakukan bersama anak-anak baru dan dibimbing minimal 2 orang kakak dalam keluarga itu. kami menyebut pendakian ini "JIBGUN (Wajib Gunung)". Kami memilih Gunung Merbabu via Selo untuk mengawali langkah kami agar nama kami dicantumkan dalam kartu keluarga. Kami harus mempersiapkan segala sesuatunya seperti yang di ajarkan oleh kakak-kakak kami. Demi keberhasilan tanjakan pertama bersama keluarga kami, semua anggota keluarga harus saling membantu, mulai dari memilih jalur tempat kami memulai pendakia, transportasi, konsumsi, bagaimana medan yang akan kami lewati, bagaimana cuacanya. Semua harus dipersiapkan dengan matang demi kelancaran dan keamanan JIBGUN kami.
       Hari H pun tiba. Semua persiapan sudah beres, tinggal cussss deh. Kegiatan Jibgun ini dimulai dengan upacara pelepasan oleh kepala keluarga di halaman sekitaran sekre kami.

Ketuanya yang pake sarung. Lebih mirip tukang ronda sih haha

Biasanya setelah kepala keluarga menyampaikan pesan untuk kami, dilanjutkan dengan acara pemanasan.



 Kami pun siap berangkat. Untuk menuju ke basecamp pendakian, kami menunggangi kuda besi dan memakan waktu 2 jam untuk sampai di TKP. Setelah sampai, biasalah karena masih capek jadi kami ngaso dulu, ada yang sholat juga. Setelah merasa siap, kami melanjutkan perjalanan, tapi ya foto dulu hehe.



Perjalanan dimulai. Track dari basecamp ke pos 1 terbilang cukup mudah karena banyak bonus, alias ga banyak nanjaknya. Sampai deh di pos 1, trus istirahat sebentar.
Kami melanjutkan perjalanan, ke pos selanjutnya. Awalnya kami berpikir track nya akan seperti track ke pos 1. Tapi apa? ya gapapa. Sampai ke pos 3 track nya masih terbilang masuk akal. Nah dari pos 3 ke Sabana 1 (Pos 4) ada yang namanya tikungan macan. Walaupun namanya seperti itu, bukan berarti ada macan di tikungan itu yang siap nungguin buat minta uang keamanan. Dari pos 3 ke pos 4 itu ada tikungannya, nah tikungannya itu nanjak terus, pokoknya macan deh. Di tikungan ini juga pendaki kabarnya kadang tersesat karena sulit membedakan jalur dengan yang bukan jalur. Sesampainya di pos 4 kami langsung mendirikan tenda tempat kami mengistirahatkan badan. Tapi cuaca tidak berpihak kepada kami. Sewaktu membangun tenda, hujan beserta teman-temannya misalnya angin, datang mengguyur kami dan membuat kami kesulitan membangun tenda, disamping saat itu matahari sudah menyembunyikan wajahnya. Tenda pun siap di buat, kami bagi menjadi tenda anak laki-laki dan perempuan. Kemudian kami masak di tenda masing-masing karena kondisi sedang hujan. Selesai makan, kami membuat keputusan untuk melanjutkan perjalan ke puncak jam 3 pagi. Rencananya sih mau ngejar sunrise di puncak, tapi karena sebagian dari kami adalah cowo jadi bangunnya telat. Rencana melihat sunrise di puncak pun tinggal wacana. Kami bangun waktu itu kalau ga salah jam 5 pagi. Keluar dari tenda, kami disambut indahnya cahaya sang surya yang membuat kami tertegun sejenak, mengagumi indahnya ciptaan sang Khalik yang satu itu. Tidak mau ketinggalan momen berharga ini, kami lanjut foto-foto.

Yang di belakang itu Gunung Merapi
Selesai foto-foto, kami melanjutkan perjalanan di puncak. Perjalanan ke puncak cukup PHP karena banyak sekali punggungan yang terlihat seperti puncak. Setelah melangkahkan kaki selama 1 jam, kami pun tiba di puncak yang sebenarnya. Kami langsung melaksakan upacara Jibgun. Hampir sama seperti upacara pada umumnya, kami menyanyikan lagu Indonesia Raya, tapi bedanya tidak ada amanat dari pembina upacara. Setelah itu kami lanjut ke sesi foto bareng sesama anak baru dan 3 orang kakak kami.

Setelah puas mengambil foto, kami melanjutkan perjalanan kami, turun ke camp kami, kemudian turun ke basecamp, lalu kembali menapakkan kaki kami di kota pelajar.

Keluarga dalam Keluarga Baru

      Untuk mengawali cerita, aku mengenyam pendidikan tingkat mahasiswa di sebuah universitas yang kata segelintir orang adalah universitas yang bonafit. Kemudian aku pindah ke ke kota tempat universitas itu menancapkan dasar bangunannya.. Sebagai seorang newbie dalam dunia perantauan, cukup sulit bagiku untuk survive seorang diri. Lulus di program studi yang katanya paling "LAKI " , aku berpikir hidup akan sangat sulit di bangku kuliah ini. Tapi tidak seperti yang ku bayangkan, di jurusanku ini aku mendapat keluarga baru. Ku akui ada beberapa yang ku anggap keluarga hanya sebagai titel, entah itu karena alasan pribadi maupun karena alasan kami bersama.
      Selain kuliah, aku mengikuti kegiatan ekstra di jurusanku. Salah satunya adalah penggiat alam kata seniorku, let's just say pecinta alam. Aku kira dulu naik gunung itu cuma sekedar naik tanpa di perlukan skill  ataupun peralatan khusus. Tapi ga ada satupun dari perkiraan ku yang tepat. Naik gunung ternyata di perlukan skill dan kekuatan fisik yang memadai. Dan semuanya di ajari di organisasi ini. Sebenarnya ini bukan sekedar organisasi seperti organisasi lainnya, ini lebih tepatnya di katakan keluarga, karena disini tidak ada senioritas, tidak memandang angkatan, tidak membedakan jenis kelamin, semua sama rata. Disini juga aku merasa berguna, di anggap, dan tidak di remehkan. Inilah keluarga di dalam keluarga baruku, kami tidak hanyak sekedar keluarga.  

 "KAMI LEBIH DEKAT DARI SAUDARA, LEBIH BESAR DARI SEBUAH KELUARGA"




Kehidupan Sebelum Pindah ke Tanah Orang




Aku berasal dari sebuah kota kecil, menempuh perjalanan darat sekitar 2 jam dari kota Medan, Sumatera Utara, nama kotanya Tebing Tinggi. Kata orang "Don't judge a book from its cover" , gatau ntah apa hubungannya sama yang mau ku ceritain ini, tapi walaupun namanya Tebing Tinggi, bukan berarti disana banyak tebing, dan tebing nya itu tinggi-tinggi. Sampe sekarang aku ga pernah tau dari mana datangnya nama itu, aku juga ga peduli sih hehe. Di besarkan dalam keluarga yang sederhana, kami tinggal di sebuah gubuk di pinggiran rel. Di situlah aku menghabiskan masa kanak-kanak dan remajaku. Walaupun kecil tapi tempat itu terasa sangat nyaman, lebih nyaman daripada hotel berbintang 5 di kamar executive (padahal ga mungkin ya kan) , tempat ini juga banyak menyimpan kenangan mulai dari yang paling bagus, sampe yang paling buruk sekalipun.

     Skip sampe ke kelas 3 SMA. Di sekolah, aku bukan termasuk anak yang pinter, rajin, taat peraturan. Jadi ceritanya, waktu kelas 3 SMA, masa dimana titik balik kehidupanmu akan ditentukan disitu, mau jadi apa kamu nanti sesudah lulus SMA, apakah mau jadi seorang mahasiswa yang notabene memiliki gengsi yang lebih tinggi daripada penangguran, atau menjadi yang lain selain mahasiswa  -__-

    Aku suka masa-masa tingkat akhir ku di SMA, karena main terus sih hehe, tapi di sisi lain otakku, aku merasa was was karena teman-temanku sudah tidak bermain-main lagi, mereka mulai serius dengan masa depannya. Misalnya waktu aku dan sebagian teman cowo ku yang bisa di bilang bandel sedang bermain, sebagian temanku yang lain sibuk dengan buku model soal dari bimbingan belajar yang di ikutinya. Bukan cuma itu, aku juga punya tanggung jawab kepada kedua orangtuaku. Aku adalah anak pertama di keluargaku, wajar saja orangtua ku berharap banyak kepada anak pertamanya. Inilah yang mulai jadi pergunjingan dalam otakku.

     Akhirnya ku putuskan untuk serius dalam studiku, ya walaupun udah telat hehe. Aku mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi. Ujian masuk Perguruan Tinggi pun sudah ku lewati. Untuk ukuran kemampuan akademikku, pilihanku waktu itu mengarah ke kurang ajar dan tidak tahu diri hahaha. Tapi hasilnya di luar dugaanku, aku lulus di pilihan pertamaku, di salah satu universitas favorit di pulau seberang. Bersyukur sekaligus bingung pun memenuhi seluruh  kepalaku beserta neuron-neuron yang masih aktif bekerja di kepalaku. Bersyukur karena lulus tes, tapi sekaligus bingung kenapa bisa lulus tes.

    Tapi sudahlah, itu urusan Tuhan, pensil, lembar jawabanku, dan komputer yang meriksa., aku sebagai manusia hanya bisa bersyukur. Saat-saat ini juga yang membuat aku kurang bersemangat, mengetahui bahwa aku harus segera meninggalkan tanah kelahiranku. Tapi lagi lagi, hidup adalah proses. Aku hanya bisa berkata " Ibu Ayah, doakan anakmu di tanah orang. Sampai bertemu di lain kesempatan, doamu besertaku"

Sebelum Ujian Akhir Menjemput

         Aku bersekolah di salah satu SMA yang bisa dikatakan favorit di kota ku. Adalah sesuatu yang wajar bila murid-murid angkatan akhir di setiap sekolah mengadakan acara perpisahan dengan teman-teman dan gurunya di penghujung umur mereka di sekolahnya. Nah, waktu itu sekolah ku mengadakan acara perpisahan untuk kami murid-murid kelas 3 SMA.
          Perpisahannya di adakan sebelum Ujian Nasional, jadi waktu perpisahan itu ada rasa tidak tenang karena pikiran terbelah antara bersenang-senang waktu perpisahan dan harus berpikir bagaimana melewati Ujian Nasional dengan baik. Akhirnya tiba hari H perpisahan. Acaranya lumayan serulah, ya walaupun ada beberapa bagian yang kami kurang suka.
          Kalau orang inggris bilang " You'll know how much that thing worth untill you lost it", ya arti kasar nya kau ga bakal tau seberapa berharganya sesuatu sampai kau kehilangan dia. Waktu masih jadi junior, kelas 2 dan 3 SMA, kamu ngerasa ada temenmu yang kalo bisa kamu gampar tiap hari, kamu tendangin, jitak kepalanya, tapi waktu perpisahan , kamu kehilangan semua hasrat mu untuk nendang, jitak, ataupun gampar dia. Semua hasrat mu itu berubah jadi pikiran " kok cepat kali harus pisah dengan mereka, apa ga bisa waktunya di tambahin sedikit lagi?" , tapi ya hidup penuh dengan proses, ada pertemuan ya ada perpisahan. Kami sekelas berkumpul di ruangan, semua perasaan diluapkan disitu.
          Ada yang nangis meraung-raung (biasanya cewe hehe) , yang cowo biasanya sih cuma ketawa-ketawa aja. Hari itu ditutup dengan sesi foto bareng, dan jabat tangan hangat dengan teman yang berarti
" Sampai jumpa lagi kawan, selamat berjuang, sukses dengan kehidupanmu, kita bertemu lain waktu dengan jabat tangan yang sama hangatnya dengan jabat tangan ini bersama dengan hasil yang sudah kita capai masing-masing" .



Friends Forever